Sebuah Pengkhianatan Para Munafik
Beberapa tahun lalu, tepatnya tahun 2007 aku mengalami banyak hal yang cukup mengguncangku. Satu masalah yang cukup complicated hingga saat ini, dan mungkin hingga ku dewasa nanti. Ya ku harap tidak terjadi dan cepat berakhir.
Kehilangan seorang Bintang Hati. Seorang superstar yang sejaki kecil selalu kupuja.Seorang Bintang Hati yang selalu membelaiku, mengajariku berbagai hal, memarahiku, pernah suatu hari ia membuatkan patung gajah di salah satu sudut teras rumahku dan mengajakku bernyanyi nyanyian gajah. Karena dialah, saat itu aku menyukai gajah. Lucu sekali. Saat itu dia orang yang sangat menyenangkan, terlampau cerdas, dan berspiritual tinggi. Aku sangat bangga padanya :)
Hingga pada suatu hari ia mengajakku bertemu seorang “Distroyer” yang kini dengan hebatnya ia bisa merubah segalanya. Saat itu, kulihat sekilas senyuman orang baru ini, manis.. dan cantik… Tetapi, saat itu juga aku melihat senyuman yang tak biasa! Saat Sang Distroyer mengulurkan tangannya di kedua bahu Bintangku, jemari lentiknya memijat Bintangku perlahan. Apa ini?? Ah, andai mereka tau… Aku memang gadis labil, tapi aku tidak bodoh. Melihat tindakkan yang tak pantas. Yah, walau hanya pijatan!!! tapi itulah awal dari segala permasalahan. Sayangnya… seorang lelaki kecil lugu duduk disampingku, lelaki kecil yang tidak mengerti apa2 saat itu pun memperhatikan mereka. Apa ya yang lelaki kecil ini pikirkan saat itu?? apakah sama denganku?
Ah tidaaaak… aku terdiam, melihat sekeliling. Aku cemburu. Tiba-tiba aku ketakutan, kalau saja ia merebut Bintang Hatiku! entah, itulah yang terlintas. Aku langsung teringat pesan singkat yang kutemui di suatu hari penting bagi kami semua dan pesan itu bermakna tidak biasa antara mereka. Dengan penuh kekhawatiran.. bersamaan, kami.. ya Aku dan Cahaya Hatiku membacanya. Ia gemetar dan… pipinya basah. Sejak saat itulah aku selalu berusaha ‘Waspada’.
Saat itu aku adalah remaja yang sangat labil, mengingat Bintang dan Cahayaku kian meredup. Aku bagai air di atas daun talas, yaap.. terombang ambing. Beruntungnya aku… Sang Ilahi menaruh sebuah mangkuk kosong yang siap setiap saat untuk menampungku di bawah daun talas itu, hingga aku dapat terjun ke dalamnya dan mengisinya :)
Aku terlalu polos saat itu, berkali-kali hampir kuredupkan Sang Cahaya Hati atas egoku. Perasaan bersalah pun muncul bergejolak. Lagi2… mangkuk itu menampungku. Menampung candaku, tangis, amarah, kebencian, dan cinta. Beruntungnya aku. Kusadari, tak hanya aku yang beruntung! Cahaya Hatiku juga memiliki teman yang juga siap memberikan sedikit cahayanya agar Cahaya Hatiku tidak meredup. Mereka hampir telah menjalani hidup bersama sejak kecil hingga saling menerangi satu sama lain. Oooh… betapa aku juga menyayangi temannya ini saat itu,bagaikan Cahaya Hatiku yang lain. Terimakasih
Pada suatu hari, saat yang paling aku takutkan tiba…..Saat2 dimana Bintangku tidak diterangi oleh Cahaya Hatiku.”Ooooh Tuhan! Apa aku bermimpi?? Kumohon… Kembalikan Bintangku, Tuhan.. Bintang yang selalu diterangi Cahayanya yang abadi. Akankah engkau menggantikan Cahaya Hatiku dengan Cahaya lain padanya?? Akankah Cahaya itu seindah Cahaya Hatiku?! Tidak. Ya, tidak akan pernah ada cahaya lain yang bisa menggantikan keindahan & ketulusan Cahaya Hatiku. Aku bersumpah.”
Curahan hati terdalamku pada Sang Ilahi saat itu -_-
Percaya atau tidak, tak hanya Bintangku yang kian menjauh dari hidupku dan hidup Cahaya Hatiku. Entah Apa dan Siapa yang memindahkan mangkuk-ku?? dan Entah mengapa, bersamaan dengan semuanya… persahabatan antar Cahaya Hatiku kian meredup. entah mengapa?! aku bertanya pada diriku,”Apa salahku, Tuhan?”
“Salahkah aku tidak ingin Bintangku pergi untuk mencari Cahaya lain??”
“Apa salah Cahaya Hatiku hingga Bintangnya dan Persahabatannya kini meredup??”
“Apa yang membuat Mangkuk itu hilang, bersamaan dengan Cahaya Kelam yang telah meninggalkan Cahaya Hatiku?!”
Tak habis fikir…. bisa2nya dua orang yang bersama2 mengalami masa kanak2,remaja, hingga dewasa kini.. bisa dengan mudah melupakan dan mengkhianati sahabatnya. Yaaa… Mereka meninggalkan Aku dan juga Cahaya Hatiku. Meninggalkan kami disaat kami membutuhkan teman berbagi Keperihan yang mendalam. Keperihan yang jarang dirasakan oleh setiap orang. Oh, mungkin mereka melakukan ini karena mereka tidak paham rasanya. Kehilangan Sang Bintang atas egonya. Kehilangan Sahabat yang ternyata menghkhianti kami! di saat yang bersamaan.
Siapa sangka…. Sang Mangkuk Emas dan Sang Cahaya Kelam bercanda tawa, berbahagia atas bersatunya Sang Bintang dan Sang Distroyer. Apa sebenarnya yang ada di fikiran kalian? Sedangkan, saat itu, Cahayaku merasa teriris dengan beban yang di panggulnya. Merasa seperti orang tak berguna yang di injak2 oleh kaki-kaki sampah kalian!
Omong Kosong kalian bahwa masih menyayangi dan ingin berbagi dengan kami?! hahahaha!!! kenapa?? Kalian sudah merasa di injak-injak juga oleh Sang Bintang Pujaan kalian itu??!! Sehingga ingin kembali pada kami, dan nantinya kalian akan kembali menginjak2 kami dengan kaki-kaki sampah itu?? Tak usah dielak lagi…..
Terlalu banyaaaak cerita dan bukti2 menyakitkan yang kulihat dan kudengar sendiri.
Sang Kuasa menunjukkan kuasanya! menjauhkan kalian orang2 munafik dari hidup kami. Bahagianya aku…. Sungguh, sangat aku berterimakasih pada Sang Ilahi.
Dulu… disaat Cahayaku tak bosannya menitikkan air mata, Cahaya Kelam itu dengan manisnya memeluk dan menghiburnya. Kini, Sang Cahaya Kelam melakukan hal sama pada Sang Distroyer. Mereka saling berbagi. haha berbagi?? apa mereka benar2 mengerti arti berbagi setelah sebuah pengkhianatan2 yg mereka lakukan??
Oh aku mengerti! Ya, mereka berbagi kemunafikan, kepalsuan, Keangkuhan, dan Berbagi hati mereka yang panas atas kebahagian Aku dan Cahayaku saat ini.
Bintangku? Bagaimana dengan bintangku?? Aku tidak melihatnya seperti yang dulu. Tak ada lagi cintaku dan rasa bangga untukknya. Meski ia memberikan harta yang melimpah padaku, dan menunjukkan berbagai karya-karya yang ia hasilkan.
Ia bukan kebanggaanku lagi! Ia bukan Bintang Hatiku lagi. Hanya orang lain yang kini terpaksa harus kuhormati, karena… karena… karena aku darah dagingnya. hufh…
2 tahun.. mungkin, hampir 3th aku merasa kecewa yang begitu dalam pada kalian! Setelah beberapa tahun itu, akupun beranjak semakin matang. Belum, aku belum dewasa.. tetapi aku semakin matang. Maka akupun semakin memahami makna sebuah Persahabatan, arti sebuah cinta.. arti sebuah kesetiaan.. arti kejujuran.. dan arti seorang Cahaya Hati bagi hidupku.
Mungkin Sang Ilahi ingin mengungkapkan kebenaran sebuah pengkhianatan yang telah di buat oleh Sang Bintang pada semua orang, termasuk kalian para pengkhianat! Tuhan menitipkan sebuah Anugerah yang sangat berharga dalam hidup kami. Ya, hidupku begitu juga hidup Cahaya Hatiku.
Betapa terkejut bahagia aku saat Sang Cahaya Hati memberi tahuku akan hal bahagia ini. Tapi… ada sebuah kalimat yg sangat tak pernah kubayangkan, saat ia berkata,”Aku hanya beritahu kau saja. Tolong jangan beritahu yg lain dulu. Aku takut.”
Ternyata, Cahayaku sedang bersedih hati. Ia tak percaya, Anugerah itu datang di saat Sebuah perpisahan yang mungkin akan segera datang saat itu. Perpisahan di depan mata. Akankah perpisahan itu tetap terjadi? Akankah Sang Bintang juga merasakan kebahagian atas Anugerah Tuhan ini? Saat itu, Sang Cahaya Kelam masih mendampingi dan memeluk Cahayaku untuk berbagi, dan Cahayaku pun merasa lebih baik di sampingnya. DULU…
Lagi-lagi aku tak habis fikir atas tindakan orang2 dewasa saat itu. Perpisahan tetap terjadi. Meskipun Tuhan mengirimkan Anugerah pada mereka. Cahayaku dimainkan perasaanya saat itu. Aku tau.. mungkin Tak hanya salah Bintangku,tetapi juga Sang Cahaya. Mungkin sudah tak ada kecocokkan, dan tetapi inti pokok dari perpisahan ini sudah dipastikan bahwa ada Sang Distroyer yang memang dijanjikan atas perpisahan ini oleh Sang Bintang. Tuhan membuktikannya padaku atas pesan singkat yang sengaja kubaca. Satu hal yang aku tak sangka adalah, ternyata Sang Distroyer masih memiliki Pemimpin dalam hidupnya. Tuhaaaan, apalagi ini?
Aku mengerti masalah ini.Masalah orang ketiga. Aku juga sudah merasakan bagaimana rasanya pahit manis percintaan, walau tak sedalam mereka. Tetapi, mengapa harus menyakiti dan menghakimi Cahayaku seenaknya??
Ia mengaku seorang spiritualis. Tapi apakah begitu tingkah seorang spiritualis pada pendampingnya? Bukankah seorang pemimpin yang baik adalah pemimpin yan mencintai & menghargai pasukannya? Tapi hingga saat ini ia bertingkah bagaikan koran berjalan yang mengumumkan keburukan Cahayaku dengan berlebih2an. Memfitnah Cahayaku. Memfitnah keluarganya. Ahhhh!!! Aku tak percaya… tapi, aku melihatnya sendiri. mendengarnya sendiri. Sehingga aku panas! Ingin sekali aku membalasnya seperti yang ia lakukan pada Cahayaku!!! Mengapa kalian para munafik hanya diam saja?? kalian percaya? begitukah figur guru dimata kalian???? Oh Tuhaaaan… bukakanlah mata hati mereka, agar hanya meresapi kebaikan dan ilmu-Mu yang kau titipkan pada Sang Bintang. Jangan biarkan mereka meresapi keburukkannya. Amin ya rabbal alamin.
9 bulan kami menanti kehadiran Sang Kaki Mungil. Aku dan Sang Cahaya, begitu juga 2 pasang kaki-kaki kecil yang akan bertambah menjadi 3 pasang kaki kecil. Betapa sempurnanya hidup kami. Meski tak ada Bintang lagi yang seharusnya juga merasakan kebahagiaan ini. Bahkan, Bintangku tak peduli pada awalnya.. hingga ia terpaksa harus peduli pada calon pemilik Kaki Mungil itu. Betapa kuatnya Cahayaku, berjuang untuk melawan perasaan sedihnya dan juga pengkhianatan beberapa sahabatnya!!!
Mungkin para munafik itu tak percaya, dan terkejut atas ceritaku ini. Mengapa aku berkata seperti ini?? Mungkin kalian para pengkhianat tidak tau betapa kejamnya permainan Sang Bintang, sehingga kalian pun masih tunduk sampai mungkin bersimpuh padanya. Betapa hinanya kalian. Bergantung pada makhluk ciptaan Sang Khalik?? Jangan mengelak, hei para Sampah!!! Ya itulah pengakuan kalian sendiri, bukan?? Bukankah seharusnya kalian bergantung pada Sang Khalik?? Lucu sekali, lelucon apa ini? Apakah guru besar kalian mengajarkan untuk bergantung padanya?? kurasa tidak…
Sungguh bukti kalian hanyalah Sampah yang tidak berdaya dan dapat di buang dan di injak-injak kapan saja oleh Sang Bintang dan Distroyernya.
Tuhan, yang meyakinkan kami atas segala mukjizat yang Ia berikan pada kami untuk membuktikan segala kepalsuan kalian para munafik! termasuk permainan palsu Sang Bintang.
Apa, kalian fikir ini hanya omong kosong?? Hei…. buka mata hati kalian! Kalian ingin bukti? Aku tak segan-segan membuktikan satu bukti yang sangat kuat betapa hinanya Sang Bintang dan Distroyer-nya itu!!!
INI NYATA!!! aku tidak ingin hidup di atas kepura-puraan seperti wajah-wajah palsu kalian.
Hufhhh, Ah sudahlah. tak akan ada habisnya.
Beberapa waktu lalu, Sang Mangkuk meminta maaf padaku. Apa harus aku memaafkannya? Semudah itukah? Bahkaaaan, ia saja tidak tau apa kesalahannya! Seharusnya ia mengerti setelah membaca ini.
Bukan karena Sang Mangkuk pergi jauh untuk menuntut ilmu di luar kota sehingga tak lagi punya waktu berbagi untukku. BUKAN. Kalian para pengkhianat, harusnya lebih mempelajari untuk menghargai hal kecil. Kalian pikir semua tindakan kalian lucu? Sperti memiliki 2 kepribadian. Berbicara & bertingkah beda di depan & di belakangku.
Hasil Kilatan cahaya blitz beserta lensa2nya lah yang membuktikan pengkhianatan kalian. Begitu juga tindakan kalian. Tak malunya kalian bermesraan dengan Sang Distoyer, memperlakukannya bagaikan permaisuri dan kalian adalah budak! Kalian tak peduli perasaan Cahayaku saat itu. Bahkan Sang Cahaya Kelam dan Mangkuknya tidak pernah sedikitpun menghampiri Aku dan Cahayaku hingga saat ini. Menanyakan dan bermesraan dengan kami lagi saat itu hingga saat ini. Mereka tidak peduli. Sebuah Kebohongan kalau kalian bilang peduli pada kami. SAMPAH. Mungkin, kalianpun malah hanya akan membawa perasaan malu & bersalah saat bertemu kami nanti.
Camkan baik2, Kami sudah tidak perlu itu lagi. Tidak butuh pelukan hangat dan kata2 manis buatan kalian kalau ternyata hanya Sebuah Kemunafikkan. Kami sudah cukup berbahagia atas kepergian kalian. Itu saja.
Kalian bisa melihat sendiri, betapa adilnya Sang Ilahi mengirimkan orang2 baik pada kami yang InsyaAllah tulus untuk berbagi bersama kami.
Jika kalian memang bertekad atas segala perkataan sampah kalian itu, kalian seharusnya bisa membuktikannya! Tapi kalian belum mampu, dan bahkan mungkin kalian juga merasa sudah tidak penting lagi untuk meminta maaf, untuk peduli, untuk berbagi dan membuktikan sikap kalian. Sudah lewat… itulah mungkin yg difikiran kalian saat ini. Mungkin. Tidak hanya aku yang tersakiti, tetapi juga Cahayaku dan keluargaku yang lain. Karena kalian para munafik!!!
Semoga kalian memahaminya. Terimakasih.